Serial Berkah #13: Tanyakan Pada Halimah (Bag. 1)

Ust. Budi Ashari, Lc. Artikel, Siroh Tematik: Berkah 1 Comment

Bismillah, alhamdulillah washolatu wasallam ‘ala rasulillah amma ba’ad.

Abdullah, putra sahabat mulia Ja’far bin Abi Thalib radiallahu anhum ajma’in, mengisahkan bahwa dia pernah mendengar langsung dari Halimah As-Sa’adiyah, ibunda Rasulullah ﷺ yang menyusui beliau. Halimah berkisah tentang bagaimana ia mendapatkan kemuliaan mengasuh calon Nabi, membimbing calon Rasul. Hidup, mendidik, membesarkan calon pemimpin bumi, orang yang terbaik yang ada di muka bumi ini. Tentu sebuah kemuliaan yang besar, tentu sebuah prestasi dan kebanggaan dalam hidup.

Mari kita dengarkan langsung kisah lengkapnya, sebagaimana yang disampaikan di dalam sirah Ibnul Ishaq bahwa Halimah As Sa’diyah radiallahu anha, beliau bertutur,

“Saya datang ke Makkah bersama para wanita dari bani Sa’ad bin Bakr.” Bani Sa’ad bin Bakr adalah suku di mana Halimah tinggal, makanya disebut Halimah As-Sa’adiyah karena dari Bani Sa’ad.

“Kami, para wanita yang berangkat dari Bani Sa’ad sedang mencari anak-anak kecil yang mau disusui, di tahun ketika itu terjadi paceklik, kering, tidak ada makanan. Saya datang dengan mengendarai keledai yang kurus, bahkan berdarah, terluka di kakinya. Saya membawa anak kecil kami.” Karena Halimah mau menyusui, maka otomatis ia punya anak kecil yang disusuinya, dan anak itu itu dibawanya.

“Dan juga membawa unta.” Sebab dia juga pergi bersama suaminya.

“Demi Allah, kami tidak bisa tidur malam-malam kami bersama bayi kami ini.” Karena tidak ada susu. Air susu ibunya tidak ada, sehingga tidak dapat mengenyangkannya.

“Bahkan di unta kami pun tidak ada yang bisa dimakan atau dinikmati susunya. Kami datang ke Makkah. Demi Allah, semua wanita yang bersama kami, semuanya sudah bertemu dengan Rasulullah Muhammad yang masih kecil saat itu, tapi setiap dikatakan dia yatim, maka semua pergi. Mengapa mereka pergi? Karena kami berkata, ‘Apa yang bisa di berikan ibunya kepada kami?’ Karena kami mengharapkan upah dari ayahnya, sementara ayahnya sudah tidak ada. Ibunya bisa berbuat apa, apa bisa ia menggaji kami? Demi Allah, satu per satu teman-teman wanitaku itu semuanya sudah pergi pulang membawa hasilnya, sudah masing-masing membawa seorang bayi kecuali aku. Aku yang belum. Ketika sudah tidak aku jumpai kecuali Muhammad kecil yang yatim yang sudah tidak diminati itu, maka aku berkata kepada suamiku Haritz bin Abdil Uzza, ‘Demi Allah saya tidak mau. Tidak suka saya pulang dengan teman-teman wanita itu sementara saya tidak mendapatkan bayi. Saya mau kembali ke anak yatim itu (maksudnya Muhammad Rasulullah ﷺ), kita akan ambil dia.”

Kemudian suaminya menjawab, “Tidak ada masalah.” Maka Halimah pergi mengambil Muhammad kecil yang yatim itu dan dia berkata, “Demi Allah, aslinya saya ini mengambilnya hanya karena saya tidak mendapatkan yang lainnya. Kemudian aku ambil dan aku bawa dengan kendaraanku.  Kemudian mulai aku susui dan ternyata dia suka. Kemudian bayi Muhammad kecil ini minum sampai kenyang.” Halimah mulai aneh, padahal sebelumnya tidak ada susunya. bahkan anaknya, saudara susuannya Nabi Muhammad ﷺ, anaknya Halimah juga ikut menyusu sampai juga kenyang. Bahkan suami Halimah pergi melihat unta dan ternyata untanya juga penuh dengan susu. Kemudian diperah dan semua meminumnya sampai kenyang.

“Maka kami tidur malam itu sebagai malam yang indah. Suami saya berkata, ‘Ya Halimah, Demi Allah, aku melihat kamu telah mengambil seorang bayi yang diberkahi. Bukankah kamu tahu bahwa kita malam ini tidur dalam keadaan nyaman karena semuanya kenyang terpenuhi.” Maka Allah terus menambah kebaikan bagi kami sampai kami kembali ke negeri kami).

Biarlah kisah ini dipahami, langsung dituturkan oleh Halimah, ibu susuan Nabi ﷺ. Dan silakan diambil pelajarannya, betapa terkadang ada rezeki yang ditolak, padahal di situ ada keberkahannya. Apalagi ini adalah mengasuh seorang bayi yang jelas diberkahi karena ia calon Nabi. Bahkan ini anak yatim. Maka Nabi ﷺ memuliakan bagi siapa pun yang mengasuh anak yatim. Ambil keberkahannya.

Wallahu ta’ala a’lam bishowwab.

Artikel ini merupakan transkripsi dari podcast audio Serial Berkah bersama Ust. Budi Ashari, Lc. Versi audio bisa didapatkan langsung di HP/gadget anda dengan bergabung ke Channel Telegram Siroh Nabawiyyah (@sirohnabawiyyah).

Comments 1

  1. Assalamualaikum, saya Lino pendengar kajian syiroh mingguan di Telegram.

    Alhamdulillah, selama ini mengikuti kajian siroh dan sangat memberi motivasi bagi saya sendiri… namu, dalam beberapa hal akhir-akhir ini.. sound track dalam membawakan kajian siroh sudah berganti-ganti selama 2 kali..
    Yang ingin saya sampaikan, bisakan sound track tersebut kembali lagi pada sound track tang pertama.. karena lebih terkesan dan menjiwai.. hhehe
    Waalaikumsalam wr wb…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *