Serial Berkah #5: Makanlah Bersama-sama

Ust. Budi Ashari, Lc. Artikel, Siroh Tematik: Berkah 1 Comment

 Bismillah, alhamdulillah, washolatu wasallam ‘ala rasulillah. Wa ba’d.

Wahsyi radhiyallahu anhu, sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, meriwayatkan sebagaimana yang disampaikan dalam Sunan Abi Dawud dan Sunan Ibnu Majah, dan hadits ini dihasankan oleh Al-‘Iroqi dan Al-Albani, rahimahullahu jami’an.

Kata Wahsyi, sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata pada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. ”Ya Rasulallah, Inna na’qulu wala nasyba?” (Ya Rasulullah, kami makan, tapi mengapa kami tidak kenyang-kenyang?)

Subhanallah, para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, untuk urusan kenyang pun mengadu kepada Nabi. Dan begitulah juga seharusnya hidup kita, bertanyalah ke Rasul tentang hidup ini dalam segala hal. Karena ternyata para sahabat, urusan makan yang tak kunjung kenyang pun bertanya pada Nabi. Kami makan banyak ya Rasulullah, tapi kenapa kami tidak kunjung kenyang?

Maka lihat jawaban Nabi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, karena jawabannya di luar dugaan kita. Ternyata urusan kenyang bukan sekadar anda makan banyak, atau bukan sekadar sebagus apa nutrisi kita, tapi ada konsep lain dalam Islam yang sumbernya langsung datang dari wahyu.

Rasulullah mengatakan, “Fa la’allakum ta’kuluna mutafarriqin,” (Mungkin kalian makannya terpisah-pisah atau sendiri-sendiri.) “Qolu na’am,” (mereka menjawab, Iya). Maka Nabi pun memberikan pesan (wejangan). Kata Nabi, “Fajtami’u ‘ala tho’amikum wad kurusmallahi ‘alaihi yu baroklakum fiih.” (Berkumpulah kalian kalau makan. Makanlah bersama-sama, sebutlah nama Allah, dan kalian akan diberkahi di makanan itu.)

Ternyata, makan bersama itu adalah konsep nubuwwah, konsep dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam agar makanan kita diberkahi untuk kita. Kalau diberkahi itu ternyata maknanya adalah membuat kalian cepat kenyang, bukankah pertanyaan sahabat adalah makan yang tak kunjung kenyang?

Maka dari itulah, Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari’, beliau menukil riwayat Ibnu Umar, mauquf dari Ath-Thabrani, diberikan alasannya. “Kullu jami’a wala tafarroku fa inna tho’amal wakhid yasfilisnain,” (Makanlah bersama-sama dan jangan terpisah-pisah karena sesungguhnya makanan satu orang cukup untuk berdua.)

Itu artinya, makanan kita bahkan bisa mencukupi sampai dua kali lipatnya. Subhanallah, inilah solusi. Makan kumpul bersama ialah konsep yang sederhana, tapi ada tema keberkahan di sana.

Adapun ayat dalam surat An-Nur  ayat 61, laisa ’alaikum juna khun’alaikum antakulu jami’an au asytata, tidak masalah bagi kalian untuk kalian makan bersama-sama atau makan terpisah-pisah. Ayat ini sudah dijelaskan oleh Ali Al-Mula Al-Qori dalam Riqotul Mafatih, ayat ini adalah rukhsoh, artinya sebuah keringanan akan bolehnya makan sendiri-sendiri, untuk menghilangkan rasa tidak nyaman bagi orang yang makan sendiri ketika keadaannya tidak memungkinkan untuk makan bersama-sama. Akan tetapi, kalau kita ingin makanan kita diberkahi, kalau kita ingin segera kenyang ketika makan, maka berkumpullah bersama-sama. Makanlah bersama-sama. Maka dari itu, mari ambil berkahnya. Semoga Allah subhana wa ta’ala memberkahi kita semua. Wallahu’alam bi showab.

Artikel ini merupakan transkripsi dari podcast audio Serial Berkah bersama Ust. Budi Ashari, Lc. Versi audio bisa didapatkan langsung di HP/gadget anda dengan bergabung ke Channel Telegram Siroh Nabawiyyah (@sirohnabawiyyah).

Comments 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *