Sepuluh Tahun Membangun Sistem di Madinah (2/2)

Ust. Budi Ashari, Lc. Artikel, Sentuhan Siroh 0 Comments

Setelah pembahasan di bagian pertama, poin pembahasan berikutnya adalah tentang membangun  sistem hingga puncaknya. Ketika tahun 5 Hijriyah, terjadi Perang Ahzab yang diabadikan Allah dalam Surat Al-Ahzab. Atau yang disebut juga dengan Perang Khandaq. Kata Ahzab artinya adalah sekutu. Adapun Khandaq artinya adalah parit. Sekutu karena berkumpul sekutu dari berbagai suku Arab, Quraisy dan nonQuraisy, mereka sepakat berkonspirasi untuk menyerang Muslimin di Madinah. Khandaq karena itu adalah sistem pertahanan Nabi dan sahabat di kota Madinah, mereka membuat parit untuk menghalangi pintu masuk ke kota Madinah.

Di akhir Perang Khandaq, Allah berikan pertolongan. Pertolongan yang mahal. Hingga sekutu yang kekuatannya tidak mungkin dilawan oleh Muslimin, karena begitu besarnya mereka, dan begitu buruknya keadaan Muslimin saat itu. Begitu mendapatkan kemenangan dari Allah Subhanahu Wata’ala, Nabi mengeluarkan sebuah kalimat dahsyat. Ini menunjukkan bahwa setelah tahun 5 adalah fase baru untuk sistem. Nabi mengatakan sebagaimana yang di sampaikan dalam Sahih Bukhari, “Sekarang kita perangi mereka, bukan mereka yang memerangi mereka, kita yang akan pergi untuk berangkaat menuju ke mereka.”

Dahsyat! Jika dalam 5 tahun yang awal Nabi dan para sahabat hanya bertahan, mempertahankan negeri, mempertahankan Muslimin, mempertahankan Islam, dan akidah di hati mereka, maka setelah tahun 5 Nabi Salallahu’alaihi Wassalam sudah mengumumkan di akhir Perang Khandaq “Sekarang giliran kita yang akan berangkat menuju mereka, bukan mereka yang memerangi kita.”

Untuk itulah kabar-kabar kembira tentang penaklukkan negeri-negeri disampaikan di tahun 5 ini. Nabi sudah menyampaikan tentang penakhlukan berbagai negeri. Bukan hanya negeri-negeri kecil, bukan hanya kota-kota biasa, bukan hanya negeri-negerinya orang Badui. Nabi sampai menyebut Yaman, Romawi, dan Persia. Dahsyat! Subhanallah! Nabi menyebut dua imperium besar di zaman itu, Persia dan Romawi. Sudah disebutkan di tahun 5 Hijriyah bahwa itu negeri akan diberikan Allah untuk Muslimin. Dan terbukti. Nanti setahun berikutnya, tahun 6 Hijriyah, musuh besar yang sering dihadapi Muslimin adalah orang-oarng Quraisy dari Mekkah. Tahun 6 adalah tahun perjanjian damai. Bukan Muslimin yang meminta, tapi musuh Islam yang meminta. Ini adalah bukti bahwa mereka sudah lemah. Maka terjadilah perjanjian yang disebut Hudaibiyah. Ini tahun 6, tahun perdamaian, Nabi manfaatkan sebaik-baiknya untuk membersihkan berbagai macam gangguan selain Quraisy. Karena Quraisy sudah tidak mau lagi memerangi kaum Muslimin dalam perjanjian mereka.

Setelah perjanjian itu, memasuki fase berikutnya. Dan Nabi buktikan “Giliran kita yang sekarang keluar. Giliran kita yang sekarang berjalan menuju mereka.” Maka tahun ke-7 Hijriyah merupakan tahun dimana Nabi Salallahu’alaihi Wassalam mulai melakukan ekspansi dakwah keluar. Nabi mengirim para sahabatnya ke berbagai wilayah, ke berbagai negeri. Nabi kirimkan surat-surat dakwah kepada raja-raja, pemimpin-pemimpin, pembesar-pembesar, kaisar-kaisar, di sekitar wilayah Arab hingga Persia dan Romawi. Semua diminta Nabi Salallahu’alaihi Wassalam untuk masuk Islam. Semua diminta untuk menerima hidayah ini. Tidak ada basa basi. Nabi langsung sampaikan, “kalau kalian masuk Islam, maka kalian mendapatkan pahala dua. Tapi kalau kalian tidak mau masuk Islam, maka kalian mendapatkan dosa dua.” Di sinilah Nabi memulai fase yang baru. Dan setelah itu Allah Subhanahu Wata’ala memberikan sebuah kemenangan yang besar. Kemenangan yang disebut-sebut dalam Al Quran, yang oleh para ulama siroh disebut sebagai kemenangan terbesar dalam siroh nabawiyah.

Rasul Salallahu’alaihi Wassalam mendapatkan kemenangan dengan penaklukan negeri Mekkah. Nabi memebersihkan tauhid mereka. Menghancurkan patung-patung, mengantarkan masyarakat Mekkah menuju hidayah mereka. Kiblat Muslimin itu bersih dari kemusyrikan hingga hari ini. Alhamdulillahirobbil’alamin.

Ini adalah tahun kemenangan. Yang disebut Allah sebagai “Fathan Mubinaa”, kemenangan yang nyata. Besar kemenangan ini. Maka sejak itu, sejak Muslimin mulai mendapatkan kemenangan demi kemenangan, setelah itu datang rombongan dari berbagai macam suku dan wilayah. Setelah tahun 8 itu, tahun 10 Hijriyah disebut sebagai ‘amul wufud, sebagai tahun utusan-utusan. Utusan-utusan itu datang ke Rasulullah Salallahu’alaihi Wassalam untuk menyatakan diri masuk Islam dan taat kepada kepemimpinan Madinah. Bahkan sebelum itu Nabi sudah banyak mengingatkan para sahabatnya tentang kebesaran, tentang harta, tentang jabatan. Nabi tengah menyiapkan mental juara para sahabatnya agar kelak mereka tidak menjadi pecundang, agar kelak mereka tidak jatuh karena harta. Agar kemenangan Muslimin di sebuah jihad mereka tidak justru menjadi kekalahan pertama mereka karena dijatuhkan oleh harta, di mana Muslimin mulai berebut harta dan jabatan.

Nabi banyak menyiapkan dalam kalimat-kalimat beliau. Menyiapkan dan mendidik para sahabat. Ini bukti bahwa seorang pemimpin, seorang pendidik harus tahu persis apa yang harus dilakukan. Generasi kita tidak hanya disiapkan untuk bertahan saat miskin. Jangan hanya siapkan mereka hanya untuk menjaga iman ketika mereka sedang papa, keadaan sedang susah. Tapi perhatikan, kalau kita pegang Islam ini, jangankan hanya harta, bumi ini akan Allah serahkan.

Kalau sudah seperti itu, maka perlu diketahui sebagaimana kemiskinan ada efek baik dan efek buruknya, demikian juga kekayaan. Tapi ketika kita membaca hadits Rasulullah Salallahu’alaihi Wassalam yang disampaikan dalam sahih Bukhari dan sahih Muslim, inilah pesan Nabi yang sangat mahal,

“wallahi…….“

“Demi Allah”, kata Nabi, “Kalau miskin aku tidak takut itu menimpakan kalian, kalau kalian miskin aku tidak takut, tapi yang aku takutkan ketika dunia dihamparkan, dibuka Allah selapang-lapangnya untuk kalian.”

Maka kalau boleh kita bandingkan sebagaimana hadits ini, bagaimana ternyata kekayaan memiliki efek negatif yang lebih besar daripada kemiskinan. Sesungguhnya Rasul tengah menyiapkan para sahabat, karena pasti sepeninggal Rasulullah Salallahu’alaihi Wassalam, ketika para sahabat akan menguasai bumi maka tidak boleh kekuasaan dan dunia itu menjatuhkan kemenangan-kemenangan yang telah mereka dapatkan. Karena seringkali justru dunia itu yang yang menjatuhkan kemenangan-kemenangan itu. Dan setelah tugas itu selesai maka Allah Subhanahu Wata’ala tahun 11 Hijriyah memanggil Rasulullah Salallahu’alaihi Wassalam dan wafatlah Rasul setelah selesai tugasnya, setelah turun ayat, “Idzajaa anashrullah…”

“Telah datang pertolongan dan kemenangan dari Allah Subhanahu Wata’ala dan kau melihat manusia berbondong-bondong masuk Islam.”

Itulah kemenangan sesungguhnya. Itulah kemenangan dari dakwah Islam ini. Ketika masyarakat mendapatkan hidayah Allah Subhanahu Wata’ala. Semoga ini menjadi sebuah gambaran bagi siapa pun yang tengah berbicara tentang peradaban, yang tengah menyiapkan keluarganya, menyiapkan dirinya, menyiapkan lembaganya, agar belajar langsung dari Nabi Salallahu’alaihi Wassalam, beginilah cara Nabi membangun sistem hingga lahirnya para pemimpin-pemimpin Muslim yang menegakkan manhaj nabawi, menegakkan aturan Rasulullah Salallahu’alaihi Wassalam.

Wallahu a’lam bishawab

Fa’tabiru yaa Ulil Abshor..

Ambillah pelajaran wahai orang-orang yang memiliki fikiran…

*artikel ini merupakan transkripsi dari podcast “Siroh Nabawiyah” Ust. Budi Ashari, Lc., dengan perubahan redaksi.
Pentranskripsi: Budi Sulistyarini
Editor: Nunu Karlina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *