Sepuluh Tahun Membangun Sistem di Madinah (1/2)

Ust. Budi Ashari, Lc. Artikel, Sentuhan Siroh 0 Comments

Berbicara tentang perjuangan Rasulullah Salallahu’alaihi Wassalam, sesungguhnya tidak hanya sebatas sebuah semangat, tetapi berbicara juga tentang masalah ilmu. Tentang urutan dan strategi. Semuanya harus dipadukan, karena semangat saja tidak pernah cukup. Manusia tidak bisa membangun peradaban hanya bermodalkan sebuah jargon dan teriakan, tetapi harus dipandu dengan ilmu yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Mari kita gali bagaimana Rasulullah dalam 10 tahun membangun sistem di Madinah.

Seperti yang sudah kita bahas, tentang 13 tahun di kota Mekah, Rasulullah Salallahu’alaihi Wassalam menyiapkan pondasi SDM. Membangun generasi yang akan mengendalikan, yang akan memegang sistem itu. Maka ini pula yang menjadi pelajaran pertama buat kita. Kita akan sangat kecewa ketika kita menemukan seseorang di “tengah jalan”, yang kita tidak pernah kenal siapa dia dengan kualitas dirinya. Tetapi tiba-tiba hanya karena dia mendapatkan simpati (dan suara) besar kemudian dia menjadi pemegang sistem. Kita sering kecewa dengan hal seperti itu. Ternyata di peradaban Islam hal seperti itu tidak dilakukan. Karena semua yang mengendalikan dan memegang sistem adalah mereka yang dulu bersama-sama mengaji. Mereka yang bersama-sama Rasulullah Salallahu’alaihi Wassalam. Mereka kumpul bersama di Kota Madinah, bersama dalam ilmu yang sama, dalam iman yang sama, dalam amal yang sama, semuanya dalam frame amal jama’i yang Islami. Kemudian setelah itu mereka bertebaran di muka bumi menjadi pemimpin yang tetap saling terkait satu sama lainnya setelah dahulu mereka memang dibina Nabi dalam satu kesatuan.

Itu pula yang harus kita lakukan ketika kita sedang membahas peradaban hari ini. Mari kita lihat lebih detail lagi tentang bagaimana Rasulullah Salallahu’alaihi Wassalam sepanjang 10 tahun di kota Madinah. Kalau boleh kita bagi, 10 tahun itu bisa kita bagi menjadi beberapa bagian. Awalnya adalah ketika Nabi mulai membangun, menanam tunas sitem itu. Begitu Nabi Salallahu’alaihi Wassalam memasuki Madinah, kota ini bukanlah suatu negeri yang telah siap sebagai sebuah negara. Madinah negeri yang tidak siap, bahkan terkait urusan kesehatan atau ekonomi. Buktinya Nabi Salallahu’alaihi Wassalam harus mendoakan dahulu Madinah, tentang kesehatan yang bermasalah. Juga tentang perekonomian yang dicarikan solusinya.

Nabi Salallahu’alaihi Wassalam harus membangun sebuah sistem baru di tengah masyarakat Madinah yang telah lelah. Setelah mereka bertempur antar mereka sendiri, kurang lebih selama ratusan tahun. Mereka perang saudara. Masyarakat yang lesu, lelah, murung karena kehabisan tenaga dan potensinya untuk bertarung antarsaudara.

Oleh karena itu, bukan sebuah pekerjaan yang kecil dan ringan bagi Rasulullah untuk membangun Madinah. Justru di sinilah pelajarannya untuk kita semua, bahwa Rasulullah Salallahu’alaihi Wassalam tidak diberi kota yang siap. Kota yang sudah mapan. Tidak. Agar kita belajar dari Rasul langsung. Beginilah cara menghadirkan sebuah negeri yang tadinya diabaikan oleh dunia, yang bahkan tidak dilirik oleh peradaban manapun hingga menjadi pusat peradaban seluruh dunia.

Rasulullah Salallahu’alaihi Wassalam memulai tunas sistem itu. Nabi melakukan beberapa langkah. Pertama, Nabi membangun masjid dan ini bukti bahwa masjid adalah pusat peradaban Islam. Bukti bahwa masjid adalah merupakan sentral dari kebangkitan Islam. Masjid adalah tolak ukur dan kejatuhan serta kebangkitan Islam. Di masjidlah semua akan dibicarakan, dibangun, dirangkai, dan seterusnya.

Kedua, Nabi Salallahu’alaihi Wassalam melakukan persaudaaraan. Mempersaudarakan antara para pendatang yaitu kaum Muhajirin dari Mekah dan tuan rumah yaitu orang-orang Madinah. Maka, dalam menjalankan konsep berkelompok harus sangat hati-hati. Perhatikan kelompok di suku mana, kelompok suku apa, dan seterusnya. Agar mampu dikelola. Agar tidak terjadi bentrokan antar mereka. Rasulullah Salallahu’alaihi Wassalam lebih dari sekadar membaurkan mereka. Bahkan Nabi mempersaudarakan. Saudaranya yang baru datang dan kekurangan adalah merupakan tanggungjawab saudaranya sebagai tuan rumah yang memiliki kelebihan.

Ketiga, Nabi Salallahu’alaihi Wassalam membangun pasar. Ini menunjukkan betapa pentingnya pasar dalam peradaban Islam. Karena di situlah perputaran perekonomian. Di pasar itu muslimin bisa berbicara (dan berbuat) banyak dalam menegakkan syari’at pasar, syari’at ekonomi, dan muamalah dalam perekonomian. Bagaima kita mau berbicara tentang perekonomian Islami, perekonomian syari’ah sementara pasar kita masih pasar musuh Islam? Jika Sistem kita masih sistem zionis? Maka menarik sekali, karena saat itu di zaman Nabi Salallahu’alaihi Wassalam pasar di Madinah pun dikuasai oleh Yahudi. Ada pasar besar contohnya pasar Bani Qoinuqo’. Maka Nabi perlu membuat pasar untuk Muslimin.

Keempat, Nabi membuat perjanjian. Perjanjian ini tidak langsung dengan Yahudi. Seringkali ketika membahas Siroh Nabawiyah, khususnya bab perjanjian Madinah, langsung membahas tentang perjanjian Muslimin dengan Yahudi. Yang larinya nanti hanya membicarakan tentang toleransi. Sangat disayangkan. Cobalah lihat lebih dalam, lebih detail. Tidak begitu. Justru perjanjian yang dibuat pertama oleh Nabi bukan dengan Yahudi tapi dengan sesama Muslim. Antara Muhajirin dan Anshor. Antara masyarakat Mekah pendatang dan masyarakat Madinah tuan rumah. Ada perjanjiannya. Bahkan kalimat pertama Rasulullah Salallahu’alaihi Wassalam di perjanjian sesama Muslim ada “innahum ummatun wahidah mindulinnas” Mereka adalah umat yang satu, yang terpisah dari masyarakat manapun.

Ketika kita berbicara tentang kata eksklusif, kita tidak pernah khawatir dengan kata itu karena Rasul yang menyampaikan. Muslimin punya eksklusifisme dari sisi akidah, ibadah. Tidak boleh dicampuri. Tidak ada kata toleransi pada bab itu.

Setelah konsolidasi internal, Nabi membuat perjanjian dengan musuh Islam yang saat itu adalah masyarakat Yahudi. Barulah kemudian bertoleransi, bersama saling menjaga sebuah kota, saling menolong, bersama untuk berbuat kebaikan selama tidak mengerjakan dosa, dan seterusnya.

Itu tunas. Nabi menyiapkan tunas sistem. Kemudian Nabi Salallahu’alaihi Wassalam dalam siroh beliau di kota Madinah, Nabi berjuang untuk mempertahankan negeri yang telah dibangun sistem tunasnya itu. Nabi menjaganya dari berbagai macam gangguan yang ditimbulkan oleh musuh-musuh Islam yang mulai khawatir dengan keberadaan Muslimin yang telah menguasai satu wilayah.

Ini pelajaran mahal. Silakan ambil pelajarannya lebih dalam lagi. Selama setidaknya 5 tahun, Nabi Salallahu’alaihi Wassalam dan para sahabat tak bergeming untuk mempertahankan negeri yang baru saja menjadi tunas ini. Karena yang namanya tunas adalah sesuatu yang baru. Untuk itulah mungkin kekuatannya belum terlalu besar. Sementara musuh mempunyai kekuaatan jauh lebih lama, lebih besar, dan lebih banyak. Tapi di hadapan pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala semuanya menjadi tidak masalah. 5 tahun pertama Muslimin belajar banyak. Bagaimana menjaga eksistensi Muslimin di dalam sistem di kota Madinah.

*artikel ini merupakan transkripsi dari podcast “Siroh Nabawiyah” Ust. Budi Ashari, Lc., dengan perubahan redaksi.
Pentranskripsi: Budi Sulistyarini
Editor: Nunu Karlina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *