Tiga Belas Tahun Pondasi Makkah (2/2)

Ust. Budi Ashari, Lc. Artikel, Sentuhan Siroh 2 Comments

Fase Mekah juga dikenal dengan fase yang banyak berbicara tentang masalah akhirat. Tentang surga neraka, tentang masalah hari kebangkitan, yaumul hisab, dan seterusnya. Hal ini yang harus banyak dibicarakan di mereka, di usia-usia awal atau pada mereka yang baru belajar Islam. Sedangkan pembicaraan tentang hukum muamalah, beberapa hukum ibadah, bahkan hukum yang terlihat menakutkan-huduud-(yaitu hukuman dalam Islam) apapun bentuknya: cambuk, potong tangan, penggal kepala, diasingkan, dibuang, dan seterusnya, hukuman-hukuman itu baru dibahas nanti di Madinah ketika memang muslimin telah siap.

Maka kalau ada anak kita, atau ada orang yang baru belajar Islam, lalu tiba-tiba diajak berbicara tentang khilafiyah hukum, ini bukan merupakan cara yang bijak untuk belajar mendalami Islam. Karena khawatir mereka akan merasakan betapa tidak nyamannya Islam, betapa tidak nikmatnya Islam. Padahal Islam ini sangat nikmat. Islam ini adalah anugerah. Islam adalah sebuah kenikmatan. Ini baru bisa dirasakan bagi mereka yang memang memiliki pondasi yang cukup seperti Nabi yang diberi Allah ayat-ayat Al-Qur’an di fase Mekah.

Fase Mekah juga dikenal fase yang banyak berbicara tentang sekitar kita. Ini (hampir) tidak ada di Madinah. Fase Mekah banyak bicara tentang alam sekitar. Tentang matahari, bulan, langit, bumi dan yang ada di bumi, gunung, sungai, air, tumbuhan, binatang, dan seterusnya. Karena kita akan lebih mudah belajar ketika mengamati sekeliling kita. Karena itu terlihat betul (nyata) di sekeliling kita. Kita diminta untuk membahas tentang alam dan yang lainnya di sekitar kita. Lagi, ini kesalahan kurikulum kita hari ini. Anak-anak belajar IPA, biologi, geologi, astronomi, atau yang lainnya tapi sayangnya hanya berbicara tentang proses alam itu. Seakan kita tidak punya Allah.

Mana kurikulum Islam? Mana pendidikan Islam yang katanya menerapkan konsep Islam? Lihatlah Al-Qur’an, kita lihat ayat dalam Surat Qaaf.

“Dan kami turunkan dari langit air yang diberkahi.”
Bicara tentang hujan, air yang diberkahi dari langit adalah hujan.

“yang dengannnya Kami tumbuhkan kebun-kebun dan biji-bijian yang dipanen.”
Ayat ini bicara tentang masalah hujan dan fungsinya.

Masih bicara fungsi, tapi Allah mulai memberikan dengan sentuhan khusus, agar kita juga belajar lebih dalam yaitu tentang masalah “an-nakhl”, yaitu tentang pohon kurma. Ada apa dengan pohon kurma? Maka seharusnya ilmuwan Muslim hadir untuk melakukan penelitiannya. Pohon-pohon kurma yang mayang-mayangnya terlihat. Ini adalah fungsi bagaimana secara khusus Allah bicara tentang pohon kurma.

“… sebagai rizqi bagi hamba”
Ada sentuhan lain. Bicara tentang hujan, kemudian menumbuhkan, Allah berikan sentuhan “ini rizqi bagi hamba”. Semestinya rasa syukur hadir di hati kita kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Betapa tidak ada yang bisa menurunkan hujan kecuali Allah. Dan ternyata Allah memberikan itu sebagai rizqi bagi kita semuanya.

“Dan kami hidupkan negeri setelah matinya.”
Dan ini lagi-lagi tentang rizqi bagi kita.

“… begitulah nanti hari kebangkitan, hari semua dikeluarkan dari kuburnya masing-masing.”
Ada poin berikutnya, ini poin mahal. Setelah kita belajar hujan dan fungsinya, dan kita bersyukur, tiba-tiba ayat melompat, menyadarkan kita bahwa proses hujan yang menumbuhkan adalah proses yang sama dengan proses kebangkitan nanti. Bayangkanlah ketika bicara hujan langsung bersambung dengan iman pada hari akhir.

Di mana kurikulum pendidikan? Di mana konsep parenting hari ini yang menghadirkan konsep bicara tentang sekitar tapi dengan gaya seperti Al-Qur’an? Maka pantas saja dulu Al Qur’an menghasilkan orang hebat. Dan pantas kurikulum hari ini tidak melahirkan orang-orang yang beriman.

Ini adalah contoh-contoh pada fase Mekah, fase yang dilalui oleh Nabi Salallahu’alaihi Wassalam dengan penuh perjuangan.

Perjalanan kehidupan Nabi penuh dengan gangguan, dan bersabar selama 13 tahun membangun pondasi, merahasiakan kajian-kajian beliau, kemudian beliau terus bergerilya membaca Al-Qur’an, membuka hati manusia-manusia yang jahiliyah, dan sombong itu dengan izin Allah Subhanahu Wata’ala. Hingga mereka mendapatkan hidayah. Perjuangan yang disokong penuh oleh orang yang dicintainya. Istri yang tak pernah ada penggantinya, Khadijah ra.

Mudah-mudahan ada yang bisa kita ambil hikmahnya. Agar kita bisa menyiapkan lebih baik lagi. Insyaa Allah kita akan pelajari lebih detail lagi tentang bagaimana persiapan itu dengan izin Allah Subhanahu Wata’ala. Agar kita bisa membawa tinggi risalah Islam, seluruh beban Islam ini dengan penuh kenikmatan hingga Islam mencapai kebesarannya.

Wallahu a’lam bishawab.

*artikel ini merupakan transkripsi dari podcast “Siroh Nabawiyah” Ust. Budi Ashari, Lc., dengan perubahan redaksi.
Pentranskripsi: Budi Sulistyarini
Editor: Nunu Karlina

Comments 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *