Tiga Belas Tahun Pondasi Makkah (1/2)

Ust. Budi Ashari, Lc. Artikel, Sentuhan Siroh 0 Comments

Adakah pelajaran yang dapat kita ambil dari pembahasan usia Nabi Salallahu’alaihi Wassalam pada usia kenabian? Mari membahas usia karya. Usia tugas. Bila kita melihat di awal tentang angka ini, ternyata Rasulullah disiapkan oleh Allah untuk menjadi seorang calon Rasul selama 40 tahun. Kemudian beliau bertugas selama 23 tahun lamanya. Itu artinya ada pelajaran yang mahal, bahwa ternyata usia persiapan calon Rasul lebih lama daripada masa tugasnya. Maka orang-orang besar atau orang yang ingin menjadi besar berikut keluarganya, harus bersabar di masa persiapan.

Bersabarlah. Lipatgandakanlah kesabaran. Selama apapun persiapan itu, jika disiapkan dengan baik, maka insya Allah kita akan memetik hasilnya di kemudian hari.

Ketika Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam Surat Thoha, “Perintahkan keluargamu untuk sholat dan bersabarlah pada hal itu.” Allah menggunakan huruf “tho” yang tidak lazim pada kata “washbir”. Karena seharusnya dalam bahasa Arab, kata “bersabarlah” cukup dengan kata “washbir” sebagaimana dalam ayat-ayat yang lain. Tetapi di ayat ini Allah menyisipkan huruf “tho”, “wasthobir”. Para ulama bahasa mengatakan bahwa tidaklah ada tambahan sebuah huruf kecuali akan berubah maknanya. Setiap bertambah satu huruf dalam satu kata maka akan bertambah pula maknanya. Maka dari itulah kata “wasthobir” salah satu makna utama yang besar adalah bahwa dia tidak boleh dengan sabar yang biasa, tapi sabar yang berlipatganda.

Ketika kita menjaga sholat keluarga, menjaga sholat generasi kita, maka harus dengan penuh kesabaran. Bayangkan kalau kita harus menjaga mereka sampai mereka siap di usia baligh. Umpamanya anak baligh di usia 12 tahun, kemudian mereka mulai sholat usia 5 tahun atau 7 tahun. Maka kita memerlukan waktu bertahun-tahun yang dalam sehari wajibnya ada 5 kali. Maka tinggal dikalikan. Betapa kita memerlukan kesabaran berlipatganda. Tidak masalah kalau ini adalah bagian dari persiapan itu. Mudah-mudahan kelak kita memetik hasilnya.

Rasulullah diberikan Allah Subhanahu Wata’ala tugas selama 23 tahun menjadi Rasul. 23 tahun itu kita bagi menjadi 2. Pertama, marhalah Makiyyah. Kedua, marhalah Madaniyyah. Ada fase Mekah dan fase Madinah. Fase Mekah selama kurang lebih 13 tahun. Fase Madinah kurang lebih selama 10 tahun. Ini adalah 2 fase perjuangan Nabi Salallahu’alaihi Wassalam. Ini adalah 2 kota yang pertama memancarkan cahaya iman setelah bumi diselimuti oleh kejahiliyahan. Kota Hijaz namanya, yaitu Mekah dan Madinah.

Mari lihat petanya, sebuah view yang besar sebelum kita dalami dengan detail satu pe satu siroh Nabawiyah tentang perjuangan Nabi. Karena ternyata perjuangan itu ada strateginya, ada urutannya. Tidak cukup hanya dengan semangat tapi juga harus ada ilmunya.

Mari kita bandingkan isi Al-Qur’an antara ayat-ayat Makiyyah dan ayat-ayat Madaniyyah. Perhatikan perbedaan-perbedaannya. Para ulama telah memberikan kajiannya pada kita setelah mereka teliti. Dan itulah konsep, urutan, cara mendidik. Itulah pendidikan Islam yang sesungguhnya. Maka mari kita lihat beberapa poin penting.

Dalam fase Mekah salah satu ciri ayat-ayat Makiyyah adalah cenderung pendek tetapi suratnya banyak. Maka berbeda dengan surat Madaniyyah yang suratnya cenderung panjang tetapi jumlah ayatnya tidak terlalu banyak. Begitulah kita mengawali pembelajaran dari siapa pun. Bermula dari yang pendek namun sering. Ketika sudah siap, kemudian bisa menerima materi ayat atau kajian yang panjang. Namun itu berarti semua memerlukan latihan dan proses. Bagaimana bisa orang berharap bisa segera hebat tanpa harus melalui sebuah latihan?

Hal lain yang menarik di antara yang ada dalam ayat-ayat Makiyyah adalah bahwa ayat tersebut dipenuhi dengan kisah. Tapi tidak dengan ayat-ayat Madaniyyah. Karena ayat-ayat Makiyyah adalah ayat yang membangun pondasi akidah, akhlaq, dan dipenuhi dengan kisah yang sangat banyak.

Berarti, kisah adalah merupakan konsep yang sangat mahal, dan Islam tidak suka dengan dongeng. Islam yang diinginkan Allah dan Rasul adalah kisah bukan dongeng. Bukan kisah fiktif tetapi sejarah. Maka berkisah adalah merupakan salah satu konsep pendidikan Islam. Alangkah ruginya ketika hari ini di kurikulum kita terutama di usia anak-anak, di usia awal mereka membangun pondasi, tidak ada kurikulum sejarah Islam. Tidak ada kurikulum yang membangun konsep diri mereka. Yang membangun akidah dan akhlaq mereka. Atau kalaupun ada tentang kurikulum kisah, ternyata kisah fiktif. Atau hanya merupakan cerita dongeng negeri-negeri, wilayah-willayah yang tidak jelas kebenarannya, tidak valid darimana sumbernya. Sangat disayangkan. Padahal kisah merupakan konsep yang sangat mahal, yang dengan itulah dulu Rasul dan para Sahabat mendidik generasinya.

Dan ini ada di fase Makiyyah. Dan mengapa dengan berkisah? Karena berkisah merupakan sesuatu yang sangat disukai orang. Tidak ada di antara kita yang tidak suka dengan kisah. Kita bisa duduk berlama-lama dengan kisah tapi mungkin kita tidak bisa duduk berlama-lama dengan membicarakan tentang hukum. Tidak semua orang suka tentang itu. Maka dari itulah pembahasan tentang hukum, pembahasan tentang beban syari’at, itu nanti di kota Madinah.

Pantas saja kalau kita punya generasi yang terus dijejali dengan kewajiban beban, umpamanya kewajiban sholat, berbakti pada orangtua, membaca Al-Qur’an, silaturahim, shodaqah, dan semua hal mulia. Tapi kalau tanpa pondasi maka itu hanya menjadi beban bagi mereka. Jika tanpa pondasi yang kuat maka mereka akan ambruk. Saat ambruk itulah kita akan terkejut. Kita akan berkata, “saya sudah mendidiknya dari kecil, mengapa di saat usia besar ternyata mereka berubah?” Karena kita tidak menyiapkan pondasinya. Sehingga ketika beban semakin berat maka ambruklah bangunan Islam generasi kita.

Jadi, konsep Mekah adalah konsep yang tidak sederhana. Sesuatu yang harus kita lalui dengan baik. Karena dengan itulah kita bisa membangun pondasi, yang kalau kokoh pondasinya maka silahkan memberikan beban setinggi apapun. Bisa membangun gedung sehebat apapun. Bukan hanya gedung tinggi bahkan bangunan yang sampai melewati awan di atas sana. Syaratnya, pondasi yang cukup, kokoh, dan layak.

Itulah yang dicontohkan generasi Islam di zaman Rasulullah dan para Sahabat. Di masa dan generasi mereka, pondasi merupakan sebuah keharusan agar mereka semuanya kelak bisa membawa beban risalah Islam ini dengan penuh kenikmatan.

*artikel ini merupakan transkripsi dari podcast “Siroh Nabawiyah” Ust. Budi Ashari, Lc., dengan perubahan redaksi.
Pentranskripsi: Budi Sulistyarini
Editor: Nunu Karlina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *