Belajar Persatuan Umat dari Siroh Nabawiyah

Abdullah Ibnu Ahmad Artikel, Goresan Alumni 0 Comments

Jika kita membaca kembali siroh Perang Badr, kemudian mencari berapa jumlah sahabat yang ikut, maka kita akan mendapatkan data lengkapnya. Kita akan mengetahui berapa orang dari kelompok Muhajirin yang ikut dan berapa orang dari kelompok Anshar yang ikut. Bahkan di kelompok Anshar masih ada rinciannya lagi, berapa orang dari suku Aus yang ikut dan berapa orang dari suku Khazraj yang ikut. Dalam buku Ar-Rahiqul Makhtum, disebutkan bahwa ada 82 (riwayat lain 83 atau 86) orang dari kelompok Muhajirin, 61 orang dari suku Aus, dan 170 orang dari suku Khazraj yang mengikuti Perang Badr.

Sesungguhnya, pengelompokan Aus dengan Aus dan Khazraj dengan Khazraj dalam Perang Badr dan beberapa peristiwa lainnya bukanlah dalam rangka membanggakan ashobiyah/kelompok, melainkan untuk efektivitas. Dalam peperangan, pengelompokan ini menjadikan penyerangan dan pertahanan pasukan lebih solid dan efektif karena mereka berada dalam kelompok yang sudah padu. Masing-masing dari mereka tentu telah mengenal betul karakteristik kabilah atau kelompoknya. Dan dalam peperangan, padunya sebuah pasukan memegang peranan yang sangat penting. Jika kita ibaratkan permainan sepak bola, berkumpulnya para pemain terbaik di dalam satu tim tidak menjamin kemenangan tim tersebut, jika tidak ada kepaduan tim.

Selain di Perang Badr, pengelompokan ini pun bisa kita lihat di Perang Hunain. Ketika pasukan muslim tercerai berai di lembah Hunain, dan yang tersisa bersama Rasulullah hanya segelintir orang dari kaum Muhajirin dan Ahli Bait saja, maka Rasulullah pun memerintahkan Al-Abbas untuk memanggil para sahabat. Kemudian Al-Abbas pun memanggil para sahabat dengan identitas kelompok mereka masing-masing. Di antara seruan Al-Abbas ialah, “Di manakah orang-orang yang berikrar di bawah pohon? (maksudnya ahlul hudaibiyah)” dan “Wahai sekalian kaum Anshar!”

Dengan pemanggilan yang seperti ini, 12 ribu pasukan muslim yang tadinya tercerai berai itu pun bisa dikumpulkan kembali dalam waktu yang relatif singkat. Pasukan muslimin yang sempat kalah di awal peperangan pun akhirnya membalikkan keadaan. Dan kemudian sejarah mencatat, banyak sekali harta rampasan yang didapat kaum muslimin dalam Perang Hunain ini.

Dari dua fragmen siroh di atas, setidaknya ada dua hal yang bisa kita dapatkan. Pertama, kelompok-kelompok yang ada di dalam tubuh umat Islam tidak serta merta menjadi aib yang membuat cacat persatuan umat. Asal diterapkan dan dikelola dengan baik, pengelompokan justru sangat bermanfaat. Kedua, jika kelompok-kelompok itu tidak bermanfaat, tentu tidak akan Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam pertahankan. Nyatanya, kita bisa melihat banyak fragmen dalam siroh yang mengakomodir pengelompokan ini. Bahkan saat Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam baru hijrah ke Kota Madinah pun, Rasulullah¬†shallalahu ‘alaihi wasallam sudah membagi umat Islam ke dalam kelompok Muhajirin dan kelompok Anshar, yang kemudian beliau persaudarakan.

Kelemahan umat kita saat ini ialah kelemahan dalam koordinasi antarkelompok. Tiap kelompok dari umat ini menganggap seolah-olah merekalah yang paling mewakili Islam. Karena anggapan yang seperti ini, ruang diskusi dan koordinasi antarkelompok menjadi sangat terbatas. Belum apa-apa sudah pasang badan dan saling curiga. Inilah yang menjadi pangkal masalahnya, bukan kelompok itu sendiri. Padahal, potensi dari tiap kelompok yang ada harusnya dimaksimalkan untuk menunjukkan keunggulan Islam. Tentunya dengan tidak saling merendahkan kelompok-kelompok yang lain. Alangkah indahnya kaidah yang pernah disampaikan oleh Sayyid Rasyid Ridha rahimahullah, “Kita bantu-membantu (tolong-menolong) mengenai apa yang kita sepakati dan bersikap toleran dalam masalah yang kita perselisihkan (khilafiyah).” Jika hal ini bisa dilakukan, maka persatuan umat dan kejayaan Islam akan segera kita raih. Biidznillah.

Wallahu a’lam bishawwab.


*faedah dari kajian Al-Fushul fi Siroh ar-Rasul bersama Ust. Asep Sobari, Lc.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *