Pentingnya Belajar Sejarah (2/2)

Ust. Budi Ashari, Lc. Artikel, Sentuhan Siroh 0 Comments

Mari kita lihat kalimat cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Hasan ibnu Ali radhiyallahu ‘anhu. Kata Hasan, “Kami diajari perang-perang (sejarah) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti kami diajari salah satu surat dalam Al-Qur’an.”

Jika Al-Qur’an merupakan panduan inti dan utama yang harus dipelajari oleh seorang muslim, itu artinya sejarah hampir disejajarkan dengan Al-Qur’anul Karim. Sayang sekali ketika hari ini kita menganggap sejarah adalah sebuah pelajaran yang amat sangat membosankan. Bahkan kita tidak merasa berkeperluan karena kita tidak terlibat dalam sejarah itu. Maka di awal inilah kita harus tahu bagaimana dan apa pentingnya kita memasuki sejarah.

Allah SWT berfirman dalam surat Yusuf mengawali kisah yang detil dan panjang dan indah dari kisah Nabiyullah Yusuf ‘alaihissalam.

“Kami mengisahkan kepadamu wahai Muhammad kisah terbaik yang kami wahyukan dari Al-Qur’an ini.”

Kemudian surat Yusuf bertutur sangat panjang. Sarat makna. Penuh dengan pelajaran yang berharga. Dan kemudian ditutup dengan ayat yang terakhir, ayat 111. Allah berfirman, “Sungguh pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mau berfikir. Al-Qur’an ini bukan perkataan yang diada-ada, tetapi ini untuk membenarkan, mengimani apa yang telah berlalu, untuk menjelaskan dengan detil segala sesuatu, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

Ketika Al-Qur’anul Karim sepertiganya adalah kisah, maka ini juga merupakan fungsi kisah. Apalagi memang Allah juga bertutur dalam akhir surat Yusuf ini tentang betapa pentingnya mengambil pelajaran dari kisah-kisah sejarah. Tapi memang kisah sejarah ini, tidak mungkin bisa diambil hikmahnya kecuali oleh ulil albab, sebagaimana yang disampaikan oleh ayat tersebut. Bagi orang-orang yang tidak mau berfikir dan tidak mau menggunakan akalnya, kisah hanya menjadi dongeng sebelum tidur. Dia tidak memiliki efek sama sekali bagi kehidupannya. Padahal ketika kita meihat di dalam ayat ini, setidaknya kisah memiliki beberapa fungsi besar.

Pertama, bahwa kisah menunjukkan keimanan. Kalau kita mengisahkan tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, umpamanya ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam peristiwa beliau dengan mukjizatnya membelah bulan yang diabadikan dalam surat Al-Qamar. Ketika kita mengisahkan kisah ini, dan kisah ini benar terjadi, maka kita telah mengimani apa yang telah berlalu.

Kemudian, kisah juga berfungsi untuk menjelaskan segala sesuatu dengan detail. Ini amat sangat menarik. Kisah adalah merupakan nasihat yang sangat lembut dan nasihat yang sangat sopan. Kalau kita ingin memberikan nasihat kepada orang lain dengan kalimat langsung bisa saja sebenarnya. Tapi mungkin tidak semua orang bisa menerima nasihat kita. Umpamanya, kalau kita katakan kepada teman kita yang boros atau mubadzir, “Saya melihat anda mubadzir, anda boros. Dan boros mubadzir itu sesuatu yang dilarang dalam Islam bahkan disebut di dalam Al-Qur’an sebagai temannya setan.”

Kita bisa saja menyampaikan itu, tapi mungkin tidak semua orang bisa menerima langsung nasihat yang seperti itu. Alangkah luar biasanya kalau kita mencoba cara yang lain. Ceritakanlah sebuah kisah. Dia akan suka mendengarnya. Sampaikanlah kisah yang ujung dari kisah itu adalah pelajaran agar orang tidak boros dan tidak mubadzir. Maka kemudian nanti di ujungnya kita tinggal mengatakan, “ambillah pelajaran dari kisah ini untuk kehidupan kamu.”

Ini pun menunjukkan bahwa sejarah bisa menjelaskan segala sesuatu. Apakah itu akhlak, ibadah, sistem, aturan, atau perundangan. Apakah itu tentang masalah sosial, keluarga, individu, bernegara, bacalah sejarah! Sejarah akan menjelaskan dengan sangat detail segala sesuatu.

Wa huda wa rahmah, merupakan fungsi sejarah berikutnya, yaitu sebagai petunjuk. Petunjuk itu ada cara agar kita mudah untuk memahaminya. Kalau kita ingin pergi ke sebuah tempat kemudian kita memerlukan petunjuk, mungkin dengan peta, mungkin hari ini dengan menggunakan GPS atau kemudian ada tulisan-tulisan di sepanjang jalan. Plang-plang sepanjang jalan itu sebagai petunjuk. Apa fungsinya? Fungsinya adalah agar kita mendapatkan petunjuk menuju apa yang sedang kita tuju. Kalau tidak, tentu kita akan kebingungan untuk mencari tempat yang kita tuju.

Maka begitulah sejarah. Sejarah akan menjadi petunjuk. Kalau Anda punya masalah, kita punya masalah, maka mari bertanya pada sejarah, ”Apa solusinya?” Kalau kita sedang mencari inspirasi, maka mari kita bertanya pada sejarah. Kita akan kaya dengan inspirasi. Dan pada akhirnya, sejarah disebut Allah sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Rahmat artinya kasih sayang. Allah SWT akan menunjukkan kasih sayangnya kepada kita dengan cara kita membaca sejarah. Ketika kita membaca sejarah, kita akan menjumpai betapa hidup kita masih sangat lebih baik dibandingkan banyak orang lain di belahan muka bumi ini. Dengan demikian maka belajarlah sejarah. Bahwa ternyata sejarah memiliki pelajaran yang sangat mahal.

*artikel ini merupakan transkripsi dari podcast “Siroh Nabawiyah” Ust. Budi Ashari, Lc., dengan perubahan redaksi.
Pentranskripsi: Budi Sulistyarini
Editor: Abdullah Ibnu Ahmad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *