Sebuah Pelajaran untuk Pemimpin dari Hudaibiyah

dzahabie Artikel, Goresan Alumni 0 Comments

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata tentang hikmah yang terkandung dalam perang (peristiwa) Hudaibiyah, “Sungguh sangat besar dan agung hikmah yang terkandung di dalamnya. Hanya Allah saja yang tahu. Dia-lah yang menciptakan sebab-sebabnya yang penuh dengan kebajikan. Sehingga tercapailah tujuan dari hikmah tersebut. Segala puji bagi-Nya.”

Banyak hikmah yang terkandung dalam peristiwa ini. Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaad Al-Ma’ad dan Muhammad ibn Abdul Wahab dalam Mukhtasharnya membahas secara khusus tentang hikmah di balik peristiwa ini. Kurang lebih ada 139 pelajaran dan hikmah dari peristiwa tersebut. Berikut hanya sebagian kecil faedah yang diangkat dari perang Hudaibiyah, sebagai pembelajaran buat kita kaum muslimin yang menjadi pemimpin bagi dirinya.

  1. Optimisme

Ini adalah perjalanan kaum muslimin ke Baitullah Haram Mekkah pada akhir tahun ke-6 H untuk melaksanakan umroh sejak mereka tiba di Madinah. Hanya saja mereka tidak mendapatkan izin dari pihak Quraisy untuk memasuki Kota Mekkah. Kaum muslimin tertahan di Hudaibiyah dekat dengan Mekkah. Rasulullah mengutus Utsman bin Affan untuk bernegosiasi dengan pihak Quraisy. Hasilnya, pihak Quraisy pun mengirimkan kembali beberapa negosiator untuk berunding. Diantara utusan Quraisy kepada Rasulullah adalah Suhail bin Amr.

Ketika Suhail bin Amr datang, lalu Rasulullah melihatnya dan berkata, “Semoga Allah memudahkan urusan kalian.” Hal ini mengajarkan kepada kita untuk bersikap optimis dalam segala keadaan.

  1. Talk less do more

Wajar kaum muslimin sangat kecewa dengan hasil perjanjian. Mereka masih belum paham apa makna di balik perjanjian tersebut. Semua merasa bingung menghadapi keanehan yang datang secara tiba-tiba. Beberapa saat setelah selesai dari penandatanganan perjanjian tersebut Rasulullah berkata, “Bangunlah! Sembelihlah hewan Qurban dan bercukurlah!” Beliau mengulangi perintah tersebut sebanyak tiga kali, namun tak ada yang bergerak melaksanakan perintah tersebut. Beliapun meninggalkan para sahabatnya dan masuk menemui Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Kemudian beliau menceritakan apa yang terjadi.

Ummu Salamah seorang wanita yang cerdas, ia menyarankan kepada Rasulullah sebuah saran yang jitu. “Temuilah kembali mereka, jangan berbicara kepada siapapun hingga engkau menyembelih sendiri qurbanmu. Panggillah tukang cukur untuk mencukurmu.” Ketika Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menjalankan saran tersebut, para sahabat pun bergegas untuk memotong rambut mereka dan menyembelih qurbannya.

Ini menunjukkan betapa pentingnya keteladanan yang baik. Sebuah tindakan nyata memberikan efek pengaruh yang besar ketimbang hanya sebuah ucapan belaka. Perbuatan seorang pemimpin di depan bawahannya adalah teladan bagi mereka. Seorang ayah di rumahnya adalah teladan bagi anak-anaknya. Mereka akan melihat kemudian terpengaruh oleh perilaku ayah mereka. Untuk itulah kita sebagai seorang muslim adalah dai yang mengajak kepada kebenaran. Sudah sepatutnya untuk memperhatikan perilaku dan menjadikannya modal dakwah dalam rangka memberikan keteladanan yang baik bagi masyarakat sekitar.

  1. Memberikan Motivasi

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan tentang keutamaan menggunduli rambut hingga plontos daripada mencukurnya sebagian, dengan mengulang-ngulang doa agar mendapatkan curahan rahmat bagi yang menggunduli plontos sebanyak 3 kali. Sementara yang memendekkan hanya satu kali saja.

Ini merupakan sebuah motivasi yang Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam berikan kepada para sahabatnya dalam melaksanakan perkara yang lebih baik. Sudah sepantasnya bagi tiap pemimpin untuk memberikan motivasi kepada yang dipimpinnya.

  1. Menepati janji

Dalam kasus penyerahan kembali Abu Jandal bin Suhail bin Amr kepada kaum Musyrikin ketika ia datang untuk bergabung dengan Muslimin karena terikat dengan perjanjian Hudaibiyah. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menepati isi perjanjian tersebut dengan menyerahkan Abu Jandal, walaupun terasa berat juga bagi Rasul.

Allah memuji kaum mukminin yang menepati janji,

ٱلَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ ٱللَّهِ وَلَا يَنقُضُونَ ٱلْمِيثَـٰقَ    

Yaitu orang yang memenuhi janji Allah dan tidak melanggar perjanjian.” (Ar-Ra’du: 20)

Mari kita bandingkan dengan kebanyakan pemimpin pada hari ini. Banyak pemimpin yang menebar janji-janji indah pada awal masa kampanye, namun pada saat merealisasikannya hanya melihat kepada yang menguntungkan pihaknya saja. Mana yang untung buat dirinya, ia realisasikan. Mana yang merugikan ia tinggalkan. Padahal Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam telah mencontohkan untuk menepati setiap perjanjian, baik disaat terasa berat maupun tidak.

  1. Tidak gegabah dalam menilai persoalan

Sebagian sahabat tidak menyukai hasil dari perjanjian tersebut. Secara zhahir tampaknya merugikan kaum muslimin. Namun Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam memiliki pandangan lain yang ternyata memang membawa kebaikan bagi Islam dan kaum muslimin. Ibnu Hajar Berkata tentang kemenangan ini, “Secara zhahir memang merendahkan kaum muslimin, tetapi di balik itu adalah kemenangan bagi mereka.” Untuk itulah seorang  muslim tidak boleh gegabah dalam menilai persoalan dan tidak melihat secara zhahirnya saja. Hendaknya memohon kepada Allah agar selalu diberikan dan ridha terhadap ketentuan-Nya.

Begitulah sedikit pelajaran yang dapat dipetik dari peristiwa Hudaibiyah. Hanya sekelumit dari kehidupan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, namun sangat sarat dengan hikmah. Alangkah indahnya jika seorang pemimpin muslim meneladani Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dalam tiap aspek kehidupannya.

Maraji’

  1. Prof. Dr. Zaid bin Abdil Karim Az-Zaid. Fikih Sirah Nabawiyah. 2014. Darussunnah: Jakarta
  2. Muhammad Ghazaly. Fiqhussiroh.
  3. Shafiyurrahman mubarakfury. Raudhatul Anwar fi sirotin Nabiy al mukhtar.
  4. Zekr. Alquran application for windows

*Muhammad Adz Dzahabie, alumni Akademi Siroh angkatan I

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *