Dzikir Penghilang Letih

Abdullah Ibnu Ahmad Artikel, Goresan Alumni 3 Comments

Suatu hari, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata pada istrinya Fatimah radhiyallahu ‘anha, “Demi Allah, aku selalu mengambil air dari sumur hingga dadaku sakit. Ayahmu telah datang membawa seorang budak, pergilah dan mintalah budak itu sebagai pelayan kita.” Fatimah berkata, “Demi Allah, aku juga selalu menumbuk gandum hingga tanganku bengkak.”

Keduanya pun datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, meminta agar Rasulullah memberikan mereka budak sebagai pelayan. Akan tetapi, Rasulullah menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan memberi budak tersebut. Aku ingin memenuhi kebutuhan perut ahli shuffah (sahabat Rasulullah sejumlah kurang lebih 70 orang yang tinggal di bagian belakang Masjid Nabawi karena tidak memiliki punya harta dan tempat tinggal), tetapi aku tidak punya apa-apa untuk mereka. Jadi, aku akan menjual budak itu pada kalian agar uangnya bisa kuberikan pada ahli shuffah.”

Ali dan Fatimah radhiyallahu ‘anhuma pun pulang. Kembali ke rumahnya dengan tangan hampa. Sesampainya di rumah, mereka menuju pembaringan lalu merebahkan diri di pembaringan, berselimutkan kain kasar.

Kemudian Rasulullah mendatangi Ali dan Fatimah di rumahnya. Mereka berdua kalang kabut ketika didatangi Rasulullah. Beliau bersabda, “Tetaplah di tempat kalian. Maukah kalian kuberitahu tentang apa yang lebih baik dari permintaan kalian tadi?”
Keduanya menjawab, “Ya.”
Beliau bersabda, “Jika kalian hendak merebahkan diri di pembaringan kalian, bertasbihlah 33x, bertahmidlah 33x, dan bertakbirlah 34x. Ini semua lebih baik bagi kalian berdua daripada seorang pelayan.”

Kisah ini shahih, terdapat dalam beberapa riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, di antaranya HR Bukhari No. 5843 dan No. 4942, juga HR Muslim No. 4906

Di dalam riwayat Muslim, ada tambahan bahwa Ali ra. berkata, “Saya tidak pernah meninggalkan bacaan tersebut semenjak saya mendengarnya dari Rasulullah.”

Ibnu Hajar berkata, “Di dalam hadist ini terkandung pelajaran bahwa barangsiapa terbiasa berzikir saat hendak tidur, ia tidak akan pernah merasa letih. Fatimah sendiri mengeluhkan rasa letih yang dirasakannya dalam bekerja, kemudian Rasulullah menganjurkannya untuk berzikir.”

Ibnu Hajar melanjutkan, “Dari hadist ini diketahui bahwa keletihan itu tidak akan hilang. Namun, barangsiapa rajin berzikir dengan zikir tersebut, ia tidak akan merasakan letih karena banyaknya pekerjaan, kendati letih itu tetap ada. Wallahu a’lam.”

Subhanallah. Kita sering merasa letih saat beraktivitas seharian. Sebagian dari kita mengeluh, sebagian lagi mencoba tetap tersenyum. Respon kita akan keletihan ini pun bermacam-macam. Ada yang mencari pembantu (seperti yang coba dilakukan Ali dan Fatimah), ada yang mengurangi sebagian aktivitasnya di siang hari, ada pula yang coba menghilangkan keletihan tersebut dengan berendam di air panas, menonton hiburan, atau bahkan mencari tempat pemijatan. Semuanya dilakukan dengan satu tujuan: Agar tubuh kembali bugar di keesokan harinya.

Kisah ini patut kita renungkan dengan mendalam. Bahwa sebagai makhluk, upaya kita untuk menghilangkan keletihan seringnya hanya didasarkan pada logika kita saja. Pegal solusinya pijat, kerja berat solusinya tambah khadimat, dan seterusnya.

Belum tibakah saatnya kita merenungkan? Bahwa Rasulullah telah mengajarkan kita ummatnya: cara terbaik untuk mengatasi keletihan di siang hari adalah dengan berzikir sebelum tidur di malam hari. Insya Allah, segala letih akan Allah ganti dengan pulih. Segala penat akan Allah ganti dengan afiat. Wallahu a’lam bishawwab.

Abdullah Ibnu Ahmad, alumnus Akademi Siroh angkatan II

Comments 3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *